Tagor Siagian si Fotografer Panggung

cs_profile_myspace-com-ardianadiotomo1

 

Fotografi merupakan salah satu kegiatan yang mulai digeluti banyak orang. Fotografer pun ada beberapa macam, salah satunya adalah fotografer panggung. Berikut ini adalah cuplikan wawancara dengan salah satu fotografer panggung, Tagor Siagian.

Reporter             : Apa alasan Anda memilihh profesi sebagai   fotografer  panggung?

Tagor Siagian    : Karena engga kesampean jadi anak band,tapi aku tetep mau naik panggung bagaimana caranya ya foto, terus aku suka musik. Dari kecil liat majalah, koran liat foto-foto bagus dan aku pengen bikin foto seperti itu, jadi karena lingkungan. Bapak saya wartawan, dirumah banyak majalah bacaan gitu.

Reporter             : Apa keunik dari fotografer panggung?

Tagor Siagian    : Uniknya kalo kita dapet moment sama kaya jurnalisme, kuncinya foto panggung itu adalah moment. Dimana moment dapat membuat suatu objek yang kita foto bisa suka dengan hasil foto kita.

Reporter             : Apa yang membedakan fotografer panggung denganFotografer lainnya?

Tagor Siagian    :  Fotografer panggung tidak bekerja di AC, tidak berhadapan dengan cewek-cewek cantik, dan foto panggung itu bersifat speed  second ( spontan), bisa kita rasakan (naluri), dan tidak direncanakan dimana setiap detiknya segala sesuatu bisa berubah-ubah, dan foto panggung itu bisa dikatakan apa adanya dalam artian kita tidak dapat mengatur segala isinya seperti di dalam foto studio.

Reporter             : Sejak kapan Anda menggeluti profesi sebagai fotografer panggung?

Tagor Siagian    : Dari tahun 1986 sampai sekarang .

Reporter             : Apa keunikan dari foto Anda?

Tagor Siagian    : Momen. Makanya kita harus kenal dengan dengan objek yang ingin kita foto. Contohnya disini saya bilang ke Kaka “Slank”, “Nanti kamu berdiri membelakangi panggung ya supaya spanduk-spanduk yang buat background itu keliatan”. Hanya sebatas itu saya bisa mengatur Kaka. Jadi semuanya spontan, Speed second, tidak direncanakan, dan itu kita pakai naluri dan yang terpenting adalah kepercayaan.

Reporter               : Pengalaman apa yang Anda dapatkan selama menjadi fotografer panggung?

Tagor Siagian    :  Pas mereka (Slank) menggunakan narkoba, saya mau foto nggak boleh. Saya menyesal. Kalau saya dapat foto mereka itu foto yang paling berharga karena akhirnya Bimbim pun minta dan ingin membayar foto itu . “Ah pas itu aja, lu ngusir gua”. Waktu itu lagi tour di Surabaya, saya masuk ke kamar Kaka. Saya mau tanya ada titipan nggak mau beli makanan mau nitip ngga,ga taunya mereka mau make. Wah saya udah mau moto tuh, tapi dimarahin Bimbim. Nah terus ada pengalaman lain yaitu foto Kaka sama Iwan Fals mereka lagi nyanyi pesawat tempur ketika di bagian “penguasa… penguasa… berilah hamba mu uang… beri hamba uang“ penonton selalu ngelempar uang koin ke mereka,pada saat itu Kaka ngeliatan Iwan Fals, Kaka nempel uang Rp.10.000 dijidat, dan ketika itu ada orang lewat nah mulai dari situ saya kehilangan moment, saya kesel banget tuh sama orang yang jalan ga liat-liat harusnya dia kan bisa liat-liat dulu ada orang yang motret dan kita harus tetap waspada .

Reporter               : Apa saran Anda untuk  Fotografer Panggung yang baru?

Tagor Siagian    :  Jangan  mengandalkan alat. Jika alat itu bagus tetapi kita tidak bisa menggunakannya dan tidak bisa menciptakan sudut pengambilan gambar (angle) yang bagus maka hasil foto pun tidak akan bernilai. Kedua, gunakan akal. Baik dalam meciptakan angle yang bagus kita harus menggunakan akal. Karena momen itu datang dari akal yang menimbulkan kemampuan kita berfikir untuk menciptakan angle yang bagus dan menghasilkan momen yang bernilai. Ketiga, biasakan memotret dengan hati (naluri). Saran keempat adalah perbanyak silaturahmi, kita harus jaga sikap, jangan arogan, dan tetap rendah diri. Kita harus saling berbagi ilmu baik senior ke junior maupun dari junior ke senior.  Saran terakhir adalah belajar dari pengalaman.

Reporter               : Bagaimana Bapak menghadapi risiko yang dihadapi oleh fotografer panggung?

Tagor Siagian : Tetap harus waspada karena dalam menggeluti proresi ini sangat banyak resikonya. Saya pernah mengalami di Palembang ketika saya ingin memotret saya naik ketembok mall, kirain saya itu pendek tetapi 30meter bawahnya langsung parkiran, karena saya ingin mendapatkan angle dari atas dan salah satu caranya adalah naik keatas tembok mall itu, dalam acara tersebut terdapat dua panggung dan saya ingin mendapatkan angle secara keseluruhan. Saya juga pernah mengalami kejadian dimana ketika saya meliput suatu acara tiba-tiba kepala saya terkena kembang api dan itu rasanya panas sekali, makanya saya selalu pakai slayer dan kaca mata untuk menghindari hal-hal seperti itu. Seorang fotografer panggung juga harus memiliki bodyguard agar bisa melindungi dia dari segala ancaman yang bisa membahayakan diri kita mulai dari barang bawaannya hingga ke fisik fotografer itu karena profesi fotografer panggung ini selalu ada ditengah penonton yang bisa saja mereka itu dapat berbuat ulah. Kita juga jangan emosi karena ingin mendapatkan hasil foto yang eksklusif. Kalau ada cara yang lebih mudah kita pakai cara yang mudah. <<[@fitriasrianggi, fotoardianadiotomo]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s